
20 Agustus 2009
22 Mei 2009
Megahnya Sebuah Masa Depan

Jelang peresmiannya pada 10 Juni nanti, pihak penyelenggara pembangunan mulai sibuk mensosialisasikan pengenalan jembatan yang konon katanya terpanjang ke lima di dunia. Mulai dari mengadakan lomba Fotografi, lomba slogan, lomba lukis, pameran foto dan menyediakan kendaraan bis AC gratis untuk warga Surabaya agar langsung melihat ke lokasi pembangunan yang sudah hampir selesai itu.
Bersama putri tercinta, saya berkesempatan menjadi salah satu penumpang bis yang hanya dibatasi 40 orang pada tiap keberangkatan. Terima kasih untuk Giga FM Surabaya yang sudah mengkoordinasi acara ini dengan baik.
Disana kami hanya diberi kesempatan 30 menit untuk melihat lihat. Tentu bukan waktu yang cukup bagi saya untuk 'melihat lihat' dengan kamera saya, dipotong separuh waktu yang digunakan untuk mengawasi dan menuruti keinginan bermain anak saya.
Jembatan Nasional Suramadu. I'll be back...
24 April 2009
Still Life dengan Kamera Saku
by. May Irianti
Sebagai pemula dalam mempelajari fotografi, khususnya fotografi makanan, seringkali kita menemui banyak sekali keterbatasan. Salah satunya adalah keterbatasan alat, yaitu kamera. Banyak yang beranggapan, bahwa foto yang bagus hanya bisa dihasilkan dengan kamera yang bagus bernilai jutaan rupiah bahkan belasan sampai puluhan juta rupiah. Secara kualitas, iya. Tapi bagus tidak sebuah foto sifatnya sangat relatif. Tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat kamera apa yang dipakai. Kemampuan penggunanya dalam mengkomposisikan sebuah objek dengan cahaya lah yang menjadi penentu, apakah sebuah foto baik atau tidak. Penguasaan kamera juga menjadi salah satu penunjang, tidak terkecuali kamera saku.
Sebuah contoh, kameranya bagus dan mahal, tapi komposisi pengambilan fotonya berantakan, pasti hasilnya mengecewakan. Sebaliknya, meski menggunakan kamera saku biasa, tapi bila penguasaan komposisinya baik, stylingnya bagus, maka akan menghasilkan karya seni yang layak dinikmati.
Sama halnya dengan kamera DSLR, kamera saku pun bisa dimaksimalkan untuk menghasilkan foto foto yang menawan. Khusus untuk artikel ini, saya sengaja meminjam sebuah kamera saku digital milik kawan saya. Sony Cybershot DSC - S650 beresolusi 7.2 MP dengan 3x optical zoom. Semoga bisa mewakili kamera saku lainnya.

1. Kenali kameramu. Ini adalah point pertama dan utama dalam mengunakan kamera apa pun itu. Ketahui kelebihannya, sadari kekurangannya. Baca buku manualnya, bila kurang paham dalam sekali membaca, ulangi bila perlu berkali kali hingga paham benar penggunaan fungsi fungsinya. Terutama bila kameranya memiliki mode manual/ program, pemahaman lebih, mutlak diperlukan. Minimal yang harus dikuasai adalah, bagaimana merubah white balance, mematikan flash, dan mengubah mode makro. Bila sudah tersedia menu manual, maka harus dikuasai pula pengaturan aperture, speed, exposure, dan ISO. Bila masih merasa belum mengenal kamera yang kita miliki dengan baik, coba luangkan satu hari penuh bermain dengan kamera mu, coba setiap mode, setiap scene, dan setiap setup di kamera. Dari situ kita bisa mengetahui perbedaan, fungsi, dan efek yang ditimbulkan.

Pilihan setting pada 'roda' mode.

Tombol macro biasa ditandai dengan simbol bunga kecil
Ket : 1. tombol macro, 2. flash, 3. exposure, 4. timer
2. Maksimalkan fungsi fungsinya. Setiap kamera memiliki keistimewaan dan kekurangan masing masing. Pelajari setiap fitur yang disediakan. Bila sudah, maksimalkan fungsinya. Misalnya kamera A menyediakan fitur ISO yang bisa diatur. Atur dan sesuaikan dengan kondisi cahaya saat pemotretan. Kamera B menyediakan fitur Image Stabiliser, aktifkan bila kita merasa tangan kita kurang stabil dalam memgang kamera. Atau kamera C yang mempunyai mode manual, pelajari cara mengkombinasikan kecepatan rana ( shutter speed ), bukaan diafragma ( aperture ) , ISO dan efeknya pada foto yang diambil. Yang pasti setiap tombol pada kamera kita punya fungsi masing masing. Bila sudah dikenali fungsinya, maka kita dapat menggunakannya secara maksimal.

White Balance. Mengatur titik warna putih pada sebuah kondisi cahaya.

Exposure Value ( EV ). Mengatur banyaknya cahaya yang jatuh ke objek.
ISO. Mengatur kepekaan film/ sensor digital ( digital image ) terhadap cahaya.
Apabila ingin menggali kemampuan kamera dengan melakukan experimen pemotretan, lakukan ditempat yang mempunyai cukup cahaya. Karena pada cahaya yang cukup, kamera akan bekerja secara maksimal.
3. Maximalkan fungsi optical zoom. Kamera saku dirancang sedemikian rupa agar dapat memotret dalam jarak yang bervariasi. Meski begitu, lensa pada kamera saku juga terbatas jarak fokalnya. Fitur zoom ( perbesaran ) pun disediakan untuk menyesuaikan jarak pandang pemakainya terhadap sebuah objek foto. Tapi pada umumnya, zoom pada kamera saku sangat terbatas. Bahkan ada beberapa jenis kamera saku yang tidak dilengkapi denga fitur zoom ini. Salah satunya dari jenis divicam.

Besar optical zoom biasa tertera pada mulut lensa.
Perbesaran/ perpanjangan dari lensa kamera ( zoom lens ) biasanya di istilahkan dengan optical zoom. Semakin besar nilainya semakin jauh jarak pandangnya ( tele ). Sedangkan digital zoom adalah perbesaran dari software yang sudah ditanam pada kamera saku. Kerjanya kurang lebih hampir sama dengan saat kita melakukan perbesaran disoftware pengolah gambar. Apabila kamera saku kita tidak memiliki fitur optical zoom ini, maka untuk mendapatkan gambar dari dekat yang tajam, maka mau tidak mau kita harus mengatur jarak pengambilan gambar dengan cara maju mundur dari objek.
Untuk pemotretan foto makanan, saya biasanya menggunakan dua mode pengambilan gambar.
Cara pertama adalah dengan mengaktifkan mode makro dan memotret dari jarak dekat. Mode ini sangat berguna untuk menghasilkan foto close up yang tajam dengan background yang blur. Meski begitu apabila kita menggunakan komposisi dengan sudut pandang perspektif, maka mode ini agak kurang sesuai, karena pespektif yang dihasilkan sedikit kurang berimbang.
Cara kedua, bila kamera sudah dilengkapi fitur optical zoom, maka kita bisa mengambil dari jarak agak jauh dengan mengaktifkan optical zoom in hingga beberapa kali atau hingga jarak maksimal optical zoom ( sangat tergantung jenis kamera dan optical zoom yang disediakan ). Hasilnya, objek tetap keliatan tajam dengan background blur dan perspektif yang lebih imbang, tanpa menimbulkan efek dolly zoom. Mode ini bisa diaktifkan dengan fungsi makro tetap aktif. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan digital zoom, karena kualitas gambar akan menurun dan gambar terlihat pecah. Ruang tajam ( DoF ) juga tidak akan terjadi dengan digital zoom karena yang bekerja adalah built in software ( firmware ) bukan lensa.

Bandingkan kedua foto diatas. Foto sebelah kiri diambil dalam mode macro tanpa perbesaran optik. Objek depan keliatan cembung, bayangan lebih tajam, dan background keliatan luas ( wide ). Foto sebelah kanan diambil dalam mode macro + pembesaran optik. Perspektif lebih seimbang, bayangan lebih halus dan background lebih sempit.
Carilah lokasi terbaik dari rumah kita yang paling banyak disinari matahari tapi tidak secara langsung, misalnya teras atau sudut dekat jendela. Setelah itu atur jatuhnya cahaya. Yang perlu diperhatikan adalah arah datangnya cahaya dan intensitas cahaya. Tentu saja, arah datangnya cahaya dan keras tidaknya cahaya yang menimpa objek akan menghasilkan foto yang berbeda beda pula.
Selama saya mempelajari still life photography dalam hal ini food photography, saya menemukan bahwa cahaya terbaik untuk foto makanan adalah cahaya yang datang dari arah samping ( key light ) dan belakang objek ( backlight ) dengan sudut pengambilan foto ( angle ) sedikit menyerong. Sedangkan intensitas cahaya yang paling bersahabat bisa diperoleh disekitar jam 9 - 11 pagi dan jam 2 - 4 sore ( golden moment ). Meski begitu hal ini tidak mutlak. Orang lain bisa saja memiliki pendapat berbeda mengenai pencahayaan ini.

Ket : Backlight ( cahaya dari arah belakang ), fill light ( cahaya dari arah depan ), dan keylight ( cahaya dari arah samping )
Untuk mengetahui arah jatuhnya cahaya, letakkan sebuah objek diatas permukaan tempat yang akan dipakai memotret ( saya biasa menggunakan jari ), lalu perhatikan bayangan yang jatuh dari objek tersebut. Bila bayangan terlalu tajam/ tegas, berarti intensitas cahaya terlalu keras. Bila bayangan tidak jelas berarti intensitasnya kurang. Cahaya paling baik untuk still life adalah bila bayangan jatuh cukup halus tanpa membuat objek menjadi gelap. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan flash/ blitz untuk memotret makanan. Cahayanya yang harsh akan membuat foto terlihat flat, dan over exposure. Detil dan dimensi foto pun akan hilang.
Dalam fotografi, hasil sebuah foto dapat dikatakan baik apabila mampu menampilkan tekstur, warna dan bentuk dari objek yang diambil. Dan penguasaan pencahayaan yang baik mampu menampilkan ketiga unsur tersebut.
B. Gunakan reflektor. Seringkali yang menjadi hambatan selama menggunakan cahaya alami adalah pengaturan kontras atau perbandingan gelap terang. Misalnya sebuah objek ditimpa cahaya dari sisi kanan, maka pada sisi kiri objek akan cenderung lebih gelap. Bila intensitas cahaya cukup kuat, maka kontras ini akan jelas terlihat. Untuk menyiasatinya, kita bisa meletakkan reflektor ini pada sisi yang kekurangan cahaya, maka cahaya yang datang bisa dipantulkan kembali untuk menerangi bagian yang lebih gelap. Reflektor bisa dibuat sendiri atau dengan memanfaatkan benda benda disekitar kita, seperti styrofoam putih, cermin, bahkan alas cake berlapis kertas perak. Namun terkadang, saat ingin menampilkan suasana sendu, suram, dan sepi, bayangan lembut bisa menambah efek dramatis dari tema suram tersebut, yang artinya reflektor mungkin tidak perlu digunakan.



Perhatikan bayangan dari objek yang menggunakan reflektor dan yang tidak.
C. Pelajari angle dan komposisi. Mempelajari fotografi akan percuma tanpa penguasaan komposisi. Dan komposisi berkaitan erat dengan sudut pandang atau sudut pengambilan foto ( angle ). Dalam fotografi sendiri, dikenal beberapa jenis kompisi. Salah satunya adalah rumus sepertiga ( rule of thirds ). Meskipun aturan ini tidak baku, namun cukup membantu saat kita sedang kesusahan memikirkan komposisi. Dalam food photography juga dikenal beberapa angle dan komposisi, seperti birds eye/ bulls eye view, tilt angle, low angle, high angle, lower a case, dan lain lain. Kamera saku didisain sedemikian rupa agar mudah disimpan dan dibawa. Poin ini dapat dijadikan kelebihan karena dengan fisik dan bobotnya yang ringan, akan lebih fleksibel digunakan pada angle angle tertentu. Cobalah bereksperimen dengan berbagai sudut, angle dan komposisi.

Variasi angle : low, high, dan bird's eye.
Photos taken with Canon Powershot S5 IS. ISO 80, 1/125, F3.5, EV +1, WB Cloudy, spot metering
D. Perdalam ilmu dan perbanyak latihan. Internet menyediakan beribu ribu literatur, artikel dan tutorial fotografi secara gratis. Tinggal kita yang harus mencarinya. Banyak baca dan banyak latihan. Practise make perfect. Join komunitas, dan forum forum fotografi. Salah satunya SLF. Terbukalah untuk setiap komentar dan kritik, karena dari situ kita belajar mengoreksi kekurangan. Sering seringlah melihat hasil karya fotografer fotografer senior, mempelajari faktor faktor menarik dalam foto tersebut, karena secara tidak langsung kita belajar menilai dan mengapresiasi karya orang lain. Dari situ kita akan lebih peka dalam menilai karya kita sendiri.
Saya mencoba mengexplorasi kemampuan kamera saku ini dan ini beberapa hasil jepretannya. Saya sertakan pula data exif masing masing foto juga setting pengambilan foto agar dapat menjadi gambaran bagaimana saya biasa mengambil foto.

Foto diambil dari atas ( bird's eye ) dengan menaiki sebuah kursi. Foto ditengah adalah foto asli tanpa retouch ( resized only ). Foto sebelah kanan adalah hasil setelah diretouch.

Foto diambil sedikit menyerong. EV diturunkan hingga -2 stop

Foto diambil dari depan kursi. EV dinaikkan +1 stop.

E. Jangan pernah menyalahkan kamera ! Bila foto foto kita terlihat kurang menarik, jangan langsung menyalahkan kamera. Selama kamera masih berfungsi baik dan tidak rusak, maka kamera tetap mampu merekam cahaya dengan baik pula. Buat saya, tidak ada kamera jelek dan kamera bagus, yang ada hanya kamera yang sesuai dan tidak sesuai. Sesuai kebutuhan, sesuai kemampuan, dan sesuai kondisi. Jangan jadikan keterbatasan itu kendala, sebaliknya keterbatasan bisa menjadi kelebihan, jika kita mampu menemukan dimana letak kekurangan kita dan mencari solusi bagaimana mengatasinya. Banyak foodie blogger Indonesia yang mampu menghasilkan karya seni fotografi makanan yang baik hanya dengan menggunakan kamera saku. So, be optimistic, you can do it too with your pocket !
Sampai saat ini saya masih menggunakan kamera saku dalam setiap pemotretan yang saya lakukan. Saya juga masih dalam proses belajar dan belajar. Karena masih banyak hal dalam fotografi yang belum saya kuasai dengan baik. Yuk, belajar sama sama. Semangat, jangan menyerah dan terus berkarya !
31 Maret 2009
[ Latihan ] Indonesian Food Styling
Sekitar seminggu yang lalu, SLF mengangkat review tentang 'Food Styling' sebagai artikel sharing dan bahan diskusi. Disana, Sefa, sebagai admin SLF yang juga menulis artikel tersebut menguraikan permasalahan tentang sulitnya menata makanan khas Indonesia agar menjadi objek menarik saat difoto. Beberapa kendala, terutama bagi yang tinggal diluar Indonesia adalah, terbatasnya properti pendukung yang memang seringkali menentukan apakah sebuah masakan Indonesia bisa berkesan Indonesia. Dan yang tidak kalah sulitnya adalah menata komposisi, baik dari makanan itu sendiri, maupun penataan properti pendukungnya selama pemotretan.
Diskusi bergulir hingga berhari hari. Semua member saling memberikan masukan, pertanyaan juga keluhan yang sama. Ditengah tengah diskusi yang sangat ramai itu, aku sempat mengutarakan, tepatnya, menggambarkan imajinasiku untuk menata makanan khas Indonesia ( in this case : Pecel ) dengan gaya internasional. Sedikit berkhayal memang. Dan belum ada rencana merealisasikan imajinasi tersebut. Karena takut imajinasiku itu malah tidak bagus untuk direalisasikan.
Tapi gayung bersambut. Mbak Sefa mengatur sebuah janji untuk sama sama merealisasikan apa yang aku khayalkan selama ini. Dan kami sepakat untuk sama sama melaporkan hasilnya hari ini.
Jadi ini hasil laporanku.
Waktu yang kusisihkan weekend ini melenceng jauh dari jadwal. Mulai sabtu, aku ada kegiatan seharian. Minggu yang rencana awalnya kujadikan hari bereksperimen, mendadak putar haluan karena harus menjenguk saudara yang terbaring di rumah sakit. Acara ini memakan waktu hampir seharian. Dan baru tiba sore hari saat matahari sudah terbenam. Kesempatan terakhir adalah tadi pagi. Dan mendadak ada tamu. Saudara datang kerumah seharian. Mau tidak mau bolak balik keluar masuk dapur buat nyicil motongin sayuran, nata meja dan properti yang mau dipake, juga setingan 'studio'nya.
Alhamdulillah, tugas selesai.
Tidak banyak yang bisa kuhasilkan. Karena waktu dan tenaga yang sangat terbatas. Entah mengapa, semua imajinasi yang sudah kususun dari jauh jauh hari itu terasa buntu dikepala. Terutama karena kendala minimnya properti. Terpaksa harus kumbawe ( kumbah gawe ) atau CKP ( cuci kering pake ) piring piring karena cuma punya satu satu.
Untuk konsep, aku memikirkan dua konsep. Pecel as a dish, dan Pecel as a side dish ( in this case, Salad ). Untuk Pecel as a dish, aku menggunakan properti serba terang, simple, and clean. Sayuran sengaja aku blanching untuk mempertahankan warna dan kesegarannya ( biasanya gak pake gitu gituan, hihi ). Bumbu nya aku buat kental agar 'hold' dan tidak mudah beleber. Awalnya aku sempat terbujuk untuk meletakkan semua lauk lauk pendukund seperti Bali Tahu dan Kering Tempe. Tapi malah jadi gak karuan karena piring terlihat 'sesak. Lalu aku ingat masukan Mbak Rachmah tempo hari, untuk lebih menonjolkan salah satu karakter yang menonjol dari hidangan yang akan difoto ( kadang kadang, inspirasi datang dari orang yang tak diduga ? Thanks mbak ! ) . Jadi, aku berfokus pada cambah, bumbu kacang, dan sayuran hijau sebagai karakter yang ingin kutonjolkan. Maka lauknya aku pisahkan. Porsi aku buat 'sesopan' mungkin a la hidangan sepinggan ( Kalau aku gak cukup porsi segitu, hehe :P )

Pecel as a main dish.


Pecel as a side dish
Kesimpulannya, apapun penataannya, semuanya tergantung selera. Dan berbicara selera, sifatnya relatif. Aku ingat seorang teman yang pernah mengatakan 'ilfill' waktu liat Tahu Telur yang aku tata sedemikian 'rapi'nya, sedangkan dia lebih tergoda dengan Tahu Telur yang ditata apa adanya, penuh ini itu khas pedagang kaki lima ( pisss mas Galiiiih ). Sedangkan aku sendiri, melihat sebuah food styling sebagai sebuah tuntutan dan tantangan tersendiri dalam mempelajari ilmu fotografi makanan.
Oke, silahkan yang mo ngasih masukan, kritikan, saran, dan one cent two cent, atau kalo ada yang mo nyumbang ide, monggo. It will be a pleasure. Asal jangan bawa parang. Xixixixi... *just kidding* Dan satu lagi, plis plis, jangan tanya resep apalagi rasa, karena aku sedang tidak membahas itu. Wekeke... *ketahuan make yang serba instan*
09 Februari 2009
A Concert / Stage Performance Photography
Hei, tapi kali ini bukan hanya sekedar dokumentasi. Maunya sih memperluas cakupan fotografi. Jadilah, sepanjang siang, aku sibuk mantengin google. Nyari artikel dan tips tentang concert/ live show/ stage performance photography. Banyak sih. Tapiii... kebanyakan artikel itu menyebutkan bahwa 'senjata' terbaik untuk fotografi jenis itu adalah DSLR. Tidak cukup hanya itu, untuk standar fotografi jurnalisme, sejumlah lensa khusus pun dibutuhkan untuk menyempurnakan misi motret artis dipanggung *nangis dipojokan*. Rasanya sih dah mau nyerah aja. Secara cuma punya prosumer. But don't worry. Aku masih cukup pede buat meng-kerja paksa-kan kameraku ini. Berbekal semboyan '
Beberapa point yang aku rangkum dari beberapa artikel yang aku temukan tentang fotografi panggung ( secara umum ), antara lain :
High ISO ( min. 800 )
No ( internal ) Flash
dSLR ( recommended )
tele / wide lens ( for dSLR )
bukaan lensa lebar ( angka kecil )
spot metering
kecepatan min 1/50 detik
ada yang mo nambahin ?
( semua point point diatas sangat bervariasi dan bisa disesuaikan dengan kondisi ( cahaya ) saat pemotretan berlangsung )
Berbekal itu semua, aku berangkat menuju medan perang.
Sore, selepas Macaroni Schutel untuk bekal bertempur matang, aku sudah bersiap membawa tripod, memory card cadangan, batre terisi penuh, dan memory card satu giga yang sudah kukosongkan sebelumnya. Suami cuma geleng geleng. Soalnya terakhir kali aku nemenin suami, aku cuma bawa tas jinjing kecil berisi dompet dan henpon, dan perut yang membuncit. But now ?? Oya lupa, aku juga pake tiga lapis pakaian. Dua lapis kaos, dan jaket untuk melindungi tubuh minim lemakku *duh gak penting banget*. Surabaya lagi dingin dinginnya.

Tiba disana sekitar pukul 17.00. Padahal jadwal manggung suami masih sekitar 3 jam lagi. Jeda waktu itu aku manfaatkan untuk mengenal situasi panggung, terutama pencahayaannya. Panggungnya kecil kok. Kalo gak salah biasa dipake buat pentas pentas kecil. Aku juga sempet motret beberapa band peserta festival buat test run. Ya ampooon.. ini lagu apaan siiih, ada yang tereak tereak, lonjak lonjak kyak orang kesurupan, ada yang suaranya melengking, ada yang ngomel ngomel, ada yang ngorok ngorok nyanyinya, ada juga yang nyanyi seriosa dengan pakaian serba gothik. Eh, ada yang anak anak juga loh, nyanyi lagu Kepompong. Satu satunya lagu yang aku kenal dan yang bisa kudengerin saat itu.

Jadwal meleseeeet. Dari rencananya jam 8 malam, baru jam 10 naik panggung. Dan ternyata sodara sodara, artikel dan teori teori yang aku makan tadi pagi, tidak mudaaaah... Mending motret band top forty yang pastinya gak begitu banyak gerak pas manggung, nah ini, baru nge-aim, pas mo mencet, loh objek ilang. Lompat lompat, lari lari gak keruan. Mana cahayanya gak cukup. Mau tidak mau, ISO 1600 dipake juga. Noise is better than blur. But ISO 1600 !? *pasrah*

Parahnya lagi, si artis lokal sekamar denganku itu ditempatkan dipojokan panggung dengan pencahayaan paling minim dan dengan jarak yang cukup jauh dari batas maximal zoomlens-ku. More zooming, more grainy. Hah, ya sudahlah. Yang penting aku senang bisa mengenal ruang lain dari fotografi.

Post processingnya juga lumayan makan waktu en rada ribyets. Terutama untuk mengurangi noise dan blur. Rasa rasanya dari 200-an foto yang aku ambil malam itu, tidak ada satupun yang hasilnya memuaskan. Dan untuk memanipulasinya hanya bisa dengan sentuhan efek efek tertentu yang agak dramatis *dan itu yang aku belum bisa*. Mo nyoba nyoba juga hasilnya malah ancur. Oya, yang menarik dari fotografi jenis ini adalah ekspresi. Biasanya para penyanyi / band punya ekspresi dan tingkah laku yang unik saat mereka manggung. Dan bagiku, susah sekali menangkap ekspresi yang 'kena' karena mereka bergerak sangat cepat.
Trus, mana nih foto idolaku ? hehe, disimpen di hardisk aja yah.
Segala masukan, kritikan dan saran sangat diterima dengan senang hati.





