02 November 2008

Aku, Kamera Digital dan Olah Digital

No photograph this time...

Pertama kali aku memiliki ( baca : boleh dibawa kemana saja ) sebuah kamera digital adalah pada awal tahun 2005. Sebuah kamera digital 2 mp keluaran Samsung yang aku lupa apa jenis typenya. Kamera itu akhirnya kubawa kesana kemari. Tapi lebih banyak kupakai untuk memotret hasil kursus catering yang sedang aku ikuti saat itu.

Sedangkan pertama kali aku mengenal olah digital adalah saat suamiku membeli sebuah scanner. Sebuah software pendukung disertakan didalam nya. Meski sudah memilikinya sejak tahun 2004, tapi aku belum benar benar 'mengenalnya', karena aku hanya melihat pengoperasiannya dari balik punggung suamiku, tanpa sama sekali mengerti apa yang sedang dilakukannya.

Setelah aku memiliki kamera digital sendiri, sedikit demi sedikit aku mulai berkenalan lebih dekat dengan software ini. ArcSoft Photo Studio 2000, demikian software minim tool itu disebut. Pada awalnya olah digital hanya kugunakan untuk mengolah foto foto kursus kateringku untuk kusimpan sendiri. Pengoperasian yang kugunakan juga sangat sederhana. Hanya sebatas menaikkan kontras dan brigtness foto, lalu menambahkan embel embel 'made by mae' di sudut sudut foto. Sambil tersenyum tiap kali selesai, foto foto tersebut kusimpan baik baik didalam hardisk komputerku. Lalu aku benar benar mendalami olah digital - dalam arti mengenal sebagian toolsnya - saat saudari iparku menikah.

Agustus 2006, saudari iparku menikah. Sebuah resepsi pernikahan sederhana digelar disebuah gedung tidak jauh dari rumah. Gedung yang sama tempat aku dan suamiku melangsungkan resepsi pernikahan sederhana. Mereka mengenakan busana pengantin adat Minang saat itu. Saudariku sendiri mengenakan sunting asli seberat 5 kilogram diatas kepalanya. Karena pagi harinya ia tidak sempat makan, maka ia pun tak mampu menyangga berat beban dikepalanya dalam waktu yang lama. Maka saat acara resepsi belum usai, ia pingsan dikursi pelaminan. Satu satunya cara untuk meringankan lemasnya adalah dengan melepas sunting dikepalanya. Alhamdulillah, pengantin perempuan nan imut itu segar kembali. Tapi mau tidak mau, pengambilan foto para undangan dan mempelai berdua terpaksa diambil dengan mempelai wanita hanya mengenakan jilbab.

Sedikit kecewa mungkin dirasakan saudariku tersebut. Karena sebagian besar foto diambil tanpa hiasan dikepalanya. Timbul rasa penasaranku untuk bisa mengolah foto foto ini. Bisakah ? Bisa ! Sebenarnya tidak yakin tapi aku bertekad harus bisa. Setelah berkutat berjam jam didepan komputer, hasilnya benar benar bikin aku dan saudariku senang. Meski agak sembarangan, tapi hasilnya cukup menyenangkan buat kami. Jilbab jilbab yang dipakai difoto foto itu aku tukar dengan sunting. ( Aku benar benar ingin menunjukkan karya oldig ku yang ini, tapi for some reason, I missed them )

Saat ini, aku masih tetap menggunakan software ini. Kenapa tidak Adobe Photoshop yang tersohor itu, hmm, aku lebih suka mengatakan bahwa aku belum mampu mengoperasikannya. Bahwa software ini mampu memberi efek efek dramatis pada foto, aku cuma bisa bilang, aku masih puas dengan hasil foto yang natural. Dimana langit tetap biru, atau rumput tetap hijau. Selama ini aku selalu mengagumi karya karya fotografi orang lain dengan sentuhan art dan teknik olah digital yang tinggi hingga foto nampak amazing bagai lukisan. Tapi foto foto tersebut tidak mampu membuatku ingin memandangnya lebih lama. Beda halnya jika aku memandang foto foto natural dengan sedikit sentuhan olah digital hasil jepretan teman temanku, rasanya damai memandang mereka lama lama. Tapi bukan berarti aku anti, hanya saja saat ini, photoshop masih menjadi peer yang belum mau kuselesaikan.

Seperti halnya olah digital, bagiku tidak masalah kamera apa yang kupakai, asal aku bisa membawanya kemanapun aku pergi. Bahkan kamera hape sekalipun, selama aku menguasai settingnya, aku tidak keberatan yang penting dia selalu ada bersamaku. Photography is about capturing the moment. How can I capture the moment if I don't bring camera with me. Dan, aku pun membawanya kemanapun aku pergi, bersanding dengan dompet dan hapeku yang tak pernah kulepas dari tas jinjingku.

Saat ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi memang tidak bisa dilepas dari benda bernama 'digital'. Mau tidak mau kita juga harus berurusan dengan segala perangkat pendukungnya. Kamera digital dan olah digital seakan sepasang kekasih yang tidak mungkin dipisahkan. Dan sejak aku mengenal fotografi digital, olah digital menjadi sebuah proses yang wajib dilewati untuk menyatakan bahwa sebuah foto itu 'done' en siap tampil.

Sekarang, aku sudah memiliki S5 IS, sebuah kamera 'biasa' yang lebih suka kuletakkan didalam tas jinjingku dari pada di tas kamera. Masih tetap kusandingkan dengan dompet dan hapeku. Sedang untuk mengolah foto foto yang kuhasilkan dari sana, saat ini aku sedang asyik menggunakan Picasa dengan tidak meninggalkan PhotoStudio 2000 minim tool yang kusukai.

6 komentar:

koosha mengatakan...

aku belum bisa nih oldig :( perlu bakat ngga sih? hehe

mae mengatakan...

he he perlu 10 % bakat, sisanya, tanya sana sini ha ha ha...

Rurie mengatakan...

wah kita sama nih Mae, suka poto yg natural...kalo liat poto langitnya BIRU BGT aku langsung ga selera :)

Keep jepret Mae...

sefa firdaus mengatakan...

IS5 bukan kamera biasa loh Mae, itu kamera luar biasa :)

IS5-kan masuk prosumer, semi DSLR ;)
aku aja pengen punya

mae mengatakan...

to Rurie : toss dah ! ibarat masakan, gak suka kalo kebanyakan penyedap hehehe.. thanks Rie..

to Sefa : untuk pertama kalinya, aku bangga punya S5, hahaha secara ada DSLR user yg kepengen S5, xixixi... smoga someday kesampean deh pny DSLR hasil jerih payah ndiri :) makaciiii mbak Sef !

Antown mengatakan...

fotonya bagus2, enak ya sambil jaga anak kamera tetap dibawa. sekali dayung dua tida pulau terlampaui heheh :)